Selasa, 28 Oktober 2014

Avatar: The Legend of Korra (Still Miss you, Aang...)

If you love Aang then you'll love Korra, the new avatar that lives next after him.
When I say 'love', I mean 'love the series', so if you love Avatar Aang's series, you'll love Avatar Korra's series too, probably. If you haven't watched it already, trust me, you're gonna be regretting your entire life. But don't blame anyone if you'll be missing Aang when you watch Korra in action. Like I was.
There're so much 'new thing' in this series that we haven't seen it in Aang's series such as: "How the first avatar be the first avatar?" or "Do you know there is spirit world and every human, not only the avatar, can enter into it now?", or "Maan, there is lava bending!", and "God, now Aang is one of the past avatars, what more sad it could be?" Sorry for these spoilers. I can't handle it. It just.. too awesome! I mean, who can stay silent and say nothing about his favorite series ever that was just finished and now there is new series that continuing the finished one?
First thing I thought about Korra was she is not as good as Aang as an avatar for me. But as soon as you dive deeper into this series, you'll love her too. But in here, you're kind of missing to meet the previous life of the avatar Aang. Everything is different from when Aang was alive. You'll miss Katara with her pretty face and her beauty actions when she was helping Aang facing fire nation, but now Katara turns into old lady. You'll miss Aang when he was acting as a kid, and also you'll miss the time when Aang went into Avatar state, not the exception of missing the special music when he turned into avatar state as well, like daa... da... da... da da da... (But don't worry, this special music effect is still can be found sometime when Korra goes into the avatar state, or something like 'hero thing' is happened. That's good). You'll miss Toph but you find that she is an old lady now. I can say this because I felt this way when I saw this series.
But also there are soo much thing that will make you love it, for sure. And the best news is you will get the same experience with Aang's series. I mean, the story telling is great as before, the fun, and others. They are great...
Now it has reached Book 4: Balance, season 4: The calling. Oho I can't wait to see the next season.
Hehe...

Minggu, 26 Oktober 2014

Derita Kepada Sampah (Kawan maksudnya)

Salah satu lagu, bukan favorit sih, tapi gue suka. Sedih soalnya. Tiba-tiba aja keputer sama playlist gue. Jadi pengin post. Haha.

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan.
Sayang engkau tak duduk di sampingku, Kawan.
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan di tanah kering bebatuan.
ho ho ho ho

Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan.
Hati tergertar menampa kering rerumputan.
Perjalanan ini pun seperti jadi saksi gembala kecil menangis sedih.
ho ho

Kawan coba dengar apa jawabnya ketika ia kutanya mengapa.
Bapak ibunya telah lama mati ditelan bencana tanah ini.

Sesampainya di laut kukabarkan semuanya
kepada karang, kepada ombak, kepada matahari.
Tetapi semua diam, tetapi semua bisu, tinggal aku sendiri terpaku menatap langit.

Barangkali di sana ada jawabnya: mengapa di tanahku terjadi bencana.
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita.
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.
ho ho ho ho

Kawan coba dengar apa jawabnya ketika ia kutanya mengapa.
Bapak ibunya telah lama mati ditelan bencana tanah ini.

Sesampainya di laut kukabarkan semuanya kepada karang, kepada ombak, kepada matahari.
Tetapi semua diam, tetapi semau bisu, tinggal aku sendiri terpaku menatap langit.

Barang kali di sana ada jawabnya: mengapa di tanahku terjadi bencana.
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita.
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.
ho ho ho ho


Dengerin lagu ini jadi keinget sama lagunya Nashida Ria. Gue lupa judulnya, tapi masih terkait bencana alam. Mungkin juga lagu ini sekaligus sebagai jawaban pertanyaan Bang Ebiet: mengapa di tanahku terjadi bencana.
Gue cuma inget potongan liriknya kayak gini:

Bencana alam datang, semua orang bimbang...
...
Tanah longsor, banjir bandang, takkan terhindari, itulah terjadi.
Marilah, marilah, marilah, hey kaaawan.
...
Darilah itu jagalah lingkungan, bersihkan saluran, buanglah sampah pada tempatnya.
Patuhi nasihat ajaran agama.
Semoga selamat dari bencana.
...
Hutan-hutan digundulin, sungai-sungai ditimbunin.
Tanahnya pada longsor, tanggulnya jadi ambrool, brol.
...


Agak nyambung dengan lirik lagu dari Nasyida Ria di atas. Tentang buang sampah pada tempatnya.
Ini yang gue rasain bener-bener hal yang susah dilakuin setelah pindah ke Bandung dari kampung. Susah buang sampah. Kalo di kampung mah gampang. Tinggal buang di belakang rumah terus di bakar. Tapi di Bandung enggak bisa. Sampai-sampai sampah menimbun di depan kamar hingga berkarung-karung karena susah buangnya. Susah karena harus ke TPA yang agak jauh, jadi males. Karena males jadi numpuk-numpuk se trash-bag.
Tapi memang kalau diminta untuk buang sampah "Pada Tempatnya" di Bandung bisa dibilang, hmm, agak mustahil. Mungkin agak terlalu kejam. Tapi mau bagaimana lagi. Karena meskipun gue buang ke TPA, TPAnya saja letaknya tidak pada tempatnya. Masa TPA di samping gerbang ke SARAGA? Padahal gue rasa pas awal-awal gue di Bandung gerbang ke SARAGA belum ada tempat pembuangan sampah segede itu. Mengganggu pemandangan bagi orang yang mau olah raga.
Terus ada juga TPA yang di samping kebun binatang, di samping jalan mau ke ITB pula, tidak ada penutupnya pulaaa. Di samping penjual jajanan pulaaa.
Terus ada juga yang di samping SABUGA. Tapi yang ini ada pengolahannya jadi agak mendingan meskipun pengolahannya sebatas sampah yang dicincang-cincang.
Emang ngga ada yang bisa disalahin, ujung-ujungnya kan akibat kita juga sang penghasil sampah. Mau bagaimana lagi?
Memang di Bandung, dan juga di kota-kota besar lainnya mungkin, masalah yang besar memang banyaknya sampah dan sempitnya lahan, jadi asal ada lahan yang 'sedikit' longgar dijadikan tempat sampah.
Kadang gue suka geregetan kenapa tidak ada alat yang buat ngolah sampah kayak di luar-luar, yang gue suka liat kalo di film-film ada tempat buat ngolah sampah yang ada mesinnya guede banget. Mungkin ada yang ingat film Toy Story 3? Di situ ada tempat pembakaran sampahnya juga. Kenapa tidak bikin saja TPAnya kayak gitu jadi sampahnya ngga numpuk?
Meski ada juga TPA yang sudah ada alat pengolah sampahnya yang gue lihat: yaitu tadi yang di samping SABUGA. Tidak tahu TPA yang lainnya. Kemungkinan kebanyakan pada tidak ada alat buat ngolah sampahnya.

Terus yang bener-bener bikin sepet mata: tempat sampah-tempat sampah di depan ITB dan tempat sampah-tempat sampah umum lainnya yang ada di pinggir jalan itu banyaaaak yang pada terlantar, kacau balau, tidak ada gunanya! AAAA...
Pasalnya, masa tempat sampah cuma ada lingkaran penutupnya doang dan tidak ada kantung tempat sampahnya? Cuma lingkaran besi dua buah doang. Udah. Alhasil para penghasil sampah pun menyumbangkan sampahnya berserakan di bawahnya, di atas penutunya yang kadang bahkan tidak ada penutupnya: bolong melompong BLONG!
Dulu pas awal-awal tempat sampah menggunakan kantung plastik memang rutin di bawah lingkaran penutup ada kantung-kantung plastik sebagai penampung sampah. Tapi lama-kelamaan, yang ganti kantung cape kali ya, jadi tidak diganti. Koreksi, bukan tidak diganti, tapi tidak dikasih kantung tempat sampah.
Aduuh... Ck ck ck.. Bagaimana ya?

Ujung permasalahan ya paling bisa curhat sendiri dan kesel sendiri. Karena walau bagaimana pun gue juga penghasil sampah.
Gue positive tingking saja pemerintah pasti sudah bersusah payah menyelesaikan masalah sampah yang tidak (edit: belum) terselesaikan. Jadi yuk, kita berusaha untuk menekan penghasilan sampah kita (meskipun yang nulis belum tentu bisa, paling tidak kan mengajak kebaikan lebih baik daripada melakukan tindakan kriminal)...
Hehe

Jumat, 10 Oktober 2014

Heart Vs. Heart

Heart Vs. Heart (c) Subkhan Sarif

My other creation.

Kamis, 09 Oktober 2014

Soft Spirit

Soft Spirit
Spontaneously composed by me also using EveryOne Piano.

Rabu, 08 Oktober 2014

House Of Glory



House Of Glory.
My music, composed by my self using EveryOne Piano.

Suaranya engga terlalu jernih soalnya saya rekam pake sound recorder windows. :D
Laptop saya lagi agak error jadi engga bisa rekam screen pake Camtasia Studio. :(

Ini ada videonya juga yang saya rekam pake kamera telepon cerdas. Haha

Selasa, 07 Oktober 2014

My Other Doodle

Doodling memang hal yang sangat... Okelah ngga usah basa basi...
Langsung aja, ini beberapa doodle saya. Saya dapat ilmu membuat bunga dari ViHart, channel yang khusus ngebahas tentang doodle, doodle, dan doodle.







Haha... Posting yang engga penting.

Rabu, 01 Oktober 2014

Ada Bule Komentar di Video Youtube, Senangnya!

Bagi mereka yang sudah berkecimpung di dunia per-Youtube-an, komentar-komentar di video yang diunggah bisa jadi hal yang biasa-biasa saja. Tampi (eh tapi, males hapus... haha) bagi orang seperti saya yang baru mencicipi punya channel Youtube sendiri (cek channel MyLittleStuffs saya), boro-boro komentar, views yang mencapai lebih dari 50 saja sudah sangat menggembirakan. Itupun kadang-kadang sayanya yang keseringan nonton video hasil unggahan sendiri dengan Incognito Browser sehingga jumlah viewsnya sampai 50 lebih. Kalau dihitung mungkin cuma kurang dari 5 views yang bukan saya yang nonton. Haha :D Atau bahkan 100% cuma saya yang nonton... -_- sediiihnya.

Maka tak heran kalau ada satu komentar saja di video mampu menjadi angin segar ditengah terpuruknya ekonomi negeri ini. Apalagi ditambah korupsi yang meraja lela dan sandiwara politik di kalangan elit yang menambah gerah pikiran, ah sudahlah. #SalahFokus

Baru-baru ini di video saya tentang hasil percobaan membuat kalkulator sederhana menggunakan Arduino, ada komentar dari orang bule. Eh engga tahu juga sih bule atau bukan. Tapi kalau dari namanya, kemungkinan besar bukan orang indonesia. Tapi kan nama bisa asal aja. Ya sudah lupakan nama.
Komentarnya menggunakan bahasa inggris meen, bule banget ngga tuh?!
Iya... Entah kenapa kalau ada orang bule, mesti segalanya kayak menjadi lebih, lebih gimana, lebih waah gitu.
Kayak komentar ini. Rasanya itu seneng soalnya ada orang bule yang nonton video ecek kebrum ngga jelas punya saya, terus ninggalin komentar. Terus sempet berkunjung ke blog yang juga ecek kebrum punya saya lagi.
Contoh lain yang membuktikan kalau sesuatu yang berhubungan dengan orang bule itu menjadi lebih wau adalah sandal swallow. Sudah pada tahukan tentang kisah sandal swallow yang menjadi terkenal beberapa waktu lalu hanya gara-gara dipake salah satu anggota boyben korea. Saya lupa nama band nya soalnya saya bukan penggemar boyben. Tapi JKT48 saya suka. #salahFokusLagi
Berita tentang sandal swallow menyebar seantero jagat. Di kompas, Di detik, Di kapanlagi, Di facebook, di twitter, di eBay, di mana lagi? Banyak.
Cuma gara-gara dipake orang korea seminggu, jadi bulan-bulanan terkenal sampai di eBay harga sepasang sandal karet mencapai 200 ribu rupiah. Dan benar saja, saya cek di eBay harganya sampai 300 ribu lebih. Gila kan?
Ya sudahlah. Kita tidak bisa pungkiri kalau kita masih terlalu tergila-gila dengan hal-hal bule. Seolah-olah kalau ada bule tau tentang kita, rasanya bangga setengah mati. Tidak salah sih. Tapi ya... gimana...
Hehe..
Babai...

Minggu, 28 September 2014

Acuh/Tak Acuh? (Seri: Indo-mu Keliru)

Note{
Hei hei... Ini adalah seri Indo-mu keliru, seri yang bakal membahas (walau engga tuntas) tentang ke-salah kaprah-an dalam berbahasa Indonesia yang sudah biasa dilakukan. Semoga bermanfaat.
}
:D

Kita sering menjumpai penggunaan kata 'acuh' dalam berbagai hal seperti di: Koran.., TV.., majalah.., artikel (selain majalah dan koran).., cerita.., buku-buku.., cerpen-cerpen.., status-status di facebook.., ocehan-ocehan di twitter.., google+.., di puisi-puisi.., di pantun-pantun.., di lirik-lirik lagu.. (juga di lirik lagu demasih).., di slogan-slogan.., di belakang baju oblong.., di poster-poster.., di spanduk pinggir jalan.. (atau spanduk di atas jalan..), di perkataan temen-temen kita.., di ocehan saudara kita.., dan di banyak tempat lainnya...
Sayangnya, kebanyakan dari mereka tidak tepat dalam menggunakan kata 'acuh' tersebut, seperti:
"Kau acuhkan diriku lagi, itu sakiit banget" (?)
"Para orang pinter udah ngga peduli sama rakyat, mereka acuh sama rakyat" (?)
"Saat kau pergi dari sisiku, kau kupanggil-panggil, tapi tetap acuh begitu saja..."
"Jadi orang itu jangan acuh begitu saja.."
dan masih banyak lagi, yang intinya, kalimat itu ingin mengungkapkan bahwa 'acuh' berarti tidak peduli.
"Kau sudah acuh kepadaku..." (mungkin maksudnya: kau sudah tak peduli padaku...)
:D

Jika kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (saya buka aja kamus online nya), di situ dijelaskan kalau 'acuh' itu berarti 'peduli / mengindahkan'.
Di situ juga diberi contoh cara menggunakannya:
"Ia tidak -- akan larangan orang tuanya." yang maksudnya: "Ia tidak peduli akan larangan orang tuanya." atau "Ia tidak mengindahkan larangan orang tuanya."

Dulu saya juga sering hampir keliru memahami kata acuh ini karena --dan mungkin ini penyebab kebanyakan orang salah kaprah-- feel dari kata 'acuh' itu sendiri terkesan negatif, atau terdengar sebagai kata negatif. Seperti misalkan ketika kita mendengar kata.. apa ya... 'selingkuh'... atau 'pencuri'... atau 'mencibir'... atau apapun itu. Yang jelas seperti ketika kita mendengar sebuah kata yang seketika itu juga pikiran kita tertuju pada sesuatu yang negatif. Mungkin seperti itulah pandangan pikiran kita terhadap kata 'acuh'. Terkesan sebuah kata negatif, padahal sebaliknya, sebuah kata yang sangat positif.

Bayangkan saja, 'acuh' itu berarti peduli atau mengindahkan. Bukankah itu adalah sebuah kata yang sangat positif. Siapapun setuju ketika mendengar kata 'mengindahkan', dia akan langsung berpikir tentang sesuatu yang positif. hehe

Jadi mulai sekarang, kalau mau membuat puisi untuk sang pacar, atau mengkritisi politikus-politikus yang jahanam, atau membuat pantun pernikahan, atau membuat lagu-lagu sedih seperti punyanya demasih, jangan salah lagi yau...
Babai... :D

Minggu, 21 September 2014

Kucing, kucing, kucing! (Puisi)

Perhatian: memuat konten tentang kecintaan kepada kucing!
Tidak layak bagi sebagian orang yang alergi atau benci kucing.
Dedicated for my beloved cat: Momon

Kucing, kucing, kucing!
Aku suka kucing,
aku cinta kucing,
aku terobsesi (pada) kucing.

Kucing, kucing, kucing!
Kenapa kamu begitu lucu?
Kenapa kamu begitu menggemaskan?
Kenapa kamu berbulu-bulu?
Kenapa kamu mukanya lucu?
Kenapa mulutmu selalu unyu?
Kenapa bunyimu menggetarkan bulu kupingku?
Kenapa tidurmu penuh sesenggukan?
Kenapa kamu kamu bisa bikin hepi?
Kenapa jalanmu seperti itu?

Kucing, kucing, kucing!
Hewan mana yang mau menimbun kotorannya selain kamu?
Hewan mana yang lebih bersih selain kamu?
Hewan mana yang lebih lucu dibanding kamu?

Kucing, kucing, kucing!
Aku suka kucing,
I looove kucing,
Ich liebe Kucing!

Kucing, kucong, kucing!
Kenapa kamu suka bermain?
Kenapa kamu sangat menggemaskan?
Kenapa kamu enak dipeluk?
Kenapa bau mu enak?
Kenapa kamu suka dielus?
Kenapa aku suka ngelus kamu?
Kenapa kamu ngetren banget di youtube?
Kenapa semua orang suka liat kamu di video?
Kenapa kamu suka bertingkah aneh?
Ada cameleon jingkrak-jingkrak?
Ada kucing lain jingkrak-jingkrak?
Ada orang lewat jingkrak-jingkrak?
Ada ayam lewat dikejar-kejar?

Kucing, kucing, kucing!
Kenapa kamu suka masuk kemana-mana?
Ada bola kamu masuk?
Ada kardus kecil maksain masuk?
Ada kendi masuk juga?
Ada lemari kebuka masuk?
Ada laci kebuka masuk?
Ada tas kebuka masuk, tidur lagi!

Kucing, kucing, kucing!
Aku suka kucing,
I AM severely loving kucing.

Kucing, kucing, kucing!
Kenapa kamu suka
Jilat,
jilat,
jilat,
jilat,
jilat,
jilat bulu kamu?

Jilat,
jilat lagi,
jilat lagi,
jilat lagi,
jilat lagi bulu kamu?

Jilat jilat aku,
jilat jilat kamu,
jilat jilat kucing lain?

Jilat jilat lagi,
jilat jilat tiada habisnya?

Jilat,
jilat lagi,
jilat jilat lagi,
jilat jilat jilat lagi,
jilat jilat jilat jilat lagi,
jilat jilat jilat jilat jilat lagi,
jilat jilat jilat jilat jilat jilat lagi?
lagi lagi jilat lagi lagi jilat lagi lagi jilat?

Kucing, kucing, kucing!
Kenapa kamu suka lompat-lompat?
Kenapa kamu suka tidur?
Kenapa kamu suka makan?
Kenapa kamu suka ngejar-ngejar barang-barang?

Oh, kucing, kucing, kucing...

***

List of funny cat videos:
link
link
link
link lagi
dan link lagi
link lagi

Jumat, 12 September 2014

Yang Kecil Yang Besar

Salah satu hobi saya yang tidak dapat dipungkiri adalah menonton film. Terutama film kartun dan animasi (tiga dimensi). Selain kedua genre favorit saya itu, saya juga menyukai film ber-genre komedi maupun action asal bukan dari Marvel. Entah kenapa saya sama sekali tidak suka film action dari marvel (seperti spiderman, superman, batman, dan man man yang lain). Meski gambarnya bagus, mengesankan, dibuat dengan teknologi mutakhir, tapi terkesan kekanak-kanakan yang keterlaluan. Berbeda dengan film kartun atau animasi, mereka bukan kekanak-kanakan, tetapi memang film anak. Beda ya, film kekanak-kanakan dengan film anak. Kalau film anak itu, ya, memang untuk anak. Lain dengan film kekanak-kanakan yang untuk orang dewasa tapi ceritanya atau alurnya atau idenya konyol yang sangat tidak masuk akal, dan dibalut dengan nuansa film untuk orang dewasa.

Contohnya Spiderman. Idenya, jelas, film buat anak. Ada manusia super yang tidak tembus peluru, bak baja. Kuat. Jelas Khayalan anak-anak. Tapi dibungkus dengan gaya untuk film dewasa. Ada adegan-adegan 18+ nya, dan sebagainya.
...
Baru baru ini saya menonton sebuah film. Genre sedikit komedi, tapi agak romantis juga. Filmnya bagus. Dari Cina.

Film itu menceritakan perjalanan seorang pemburu siluman yang nanti akhirnya menjadi gurunya Sun Go Kong. Tahu Sun Go Kong kan? Si manusia kera yang usil yang punya lidi bisa memanjang. Kalau masih ingat, dulu itu Sun Go Kong melakukan perjalanan jauh menuju barat (matahari terbenam) bersama manusia babi, manusia banteng, dan seorang biksu yang botak. Nah film ini menceritakan kisah sebelum si biksu menjadi botak.

Ada pelajaran menarik yang dapat diambil dari film ini yaitu terkadang kita tidak menyadari adanya sesuatu yang kecil sehingga kita selalu berangan-angan sesuatu yang lebih besar. Padahal, sesuatu yang kecil itulah yang bernilai besar. Manusia sering menginginkan kebesaran, keagungan, seperti halnya cinta yang agung dan mengabaikan cinta yang kecil. Eh kok jadi ngomongin cinta ya? Ya sudahlah.

Filmnya sangat menarik menurut saya. Saya tidak bisa menjelaskan sesuatu yang menarik itu dengan tulisan. Akan lebih menarik kalau Anda menontonnya sendiri. Judul film nya adalah Journey To The West.
Designed By Seo Blogger Templates - Published By Gooyaabi Templates