Sunday, January 24, 2016

Wednesday, January 20, 2016

Tuesday, November 10, 2015

Friday, September 18, 2015

Why I Switched to Ubuntu

Bagian terbesar di komputerku adalah Ubuntu. Kenapa? Ya, karena aku suka sama Ubuntu, sama tampilannya, khususnya Ubuntu Gnome -- No offense to Unity lovers though. Ubuntu jadi satu-satunya OS yang beruntung buat nongkrong di komputerku, bukan di Jendela, bukan pula pake Apel (what?).
Itu semua berawal dari zaman dulu kala....

...

(musik --kayak drililing drilling ling driling-- saat memasukki flashback story)

...

Aku seorang muda, pekuliah di Institut Teknologi Bandung. Hidup sendiri, alone, di kosan. Tak ada orang tua, tak ada keluarga, jauh dari sanak saudara. Susah-susah hidup harus dihirup sendiri. Tak ada yang bisa diajak berbagai. Senang-senang hidup juga dimakan sendiri. Nggak ada yang bisa diajak tertawa.
Zaman itu Android adalah sesuatu yang sedang marak-maraknya. Android sedang meroket, terkenal di sana-sini. Semua orang, uhm hampir semua orang, tahu apa itu Android. Hal ini mendapatkan perhatianku, aku jadi pengin belajar bikin aplikasi Android....

(huh, ceritanya masih panjang....)

Waktu itu aku masih bangga buka Jendela di laptopku, karena zaman itu lagi ngetren-ngetrennya 8 dan 8.1 buah Jendela di layar komputer. Jadi ngga mau ketinggalan dong, aku juga pasang 8 daun Jendela di laptopku.
Singkat cerita, biar ngga kepanjangan, pegel nulis, aku belajar deh gimana cara bikin aplikasi Android, di Jendela. Waktu itu masih pake Gerhana buat bikin Aplikasi Android. Apesnya, Gerhana waktu itu berat banget, dan sampe sekarang juga masih berat banget kalau dilihat lewat Jendela. Saking beratnya, sampe-sampe daun Jendela ngga mau kebuka lamaaaaa banget, atau ngga mau nutup lamaaaaa banget. Jadi bikin makan ati.
Alhamdulillah,,,, tak lama sedari itu, muncul Android Studio yang dibesut oleh Google, yaitu aplikasi khusus buat bikin aplikasi khusus Android. #bingung? Pelan-pelan bacanya.
Alhamdulillah,,, Android Studio lumayan lebih ringan dibanding liat Gerhana. Senengnya.
Tapi bencana datang lagi. Semakin pake Android Studio, semakin berat pula tuh aplikasi. Sampe memori yang kepake bergiga-giga. Hal ini juga bikin makan ati, karena beraaat banget.

(Ini klimaksnya...)

Sampe suatu malam, habis isya. Aku duduk di kasur lantai, (well, bukan kasur lantai, tapi kasur yang ada di lantai, you know what I mean) melanjutkan bikin aplikasi pake Android Studio. Saat itu hati udah hampir habis kemakan tiap buka Android Studio. Jendela jadi bebel ngga ngerespon. Soalnya gini...
Aku buka Android Studio aja kira-kira 10-20 menit. Buat buka aja bung.
Lalu, aku ketik sesuatu, satu huruf....
JEJEENGGGG....
Macet total kayak di Jakarta.
Android Studio ngga ngerespon. Jendela ngga ada angin masuk ataupun keluar.

(Tahan nafas sambil lihatin kursor ngga kedip, aku juga ngga kedip matanya)

JEEEEEENGGGG.....
Kursor berkedip kembali, artinya Android Studio hidup kembali.


Lalu aku ketik lagi satu karakter.

Huppppp....

Tahan nafas lagi.......
Karena kursor ngga kedip lagi, Android Studio tidur lagi....
Angin di Jendela juga macet lagi....

ARRRGHGHGHG...

(Ini beneran loh, skenarionya kayak gini. Nggak mengada-ngada).

SUDAH CUKUP!
Hatiku sudah habis kau makan terus Android Studio! Cukup! Cukup! Cukuuup!!!!
"Dug! dug! dug!", aku pukul-pukul dadaku yang sesak bukan main, lalu kututup Jendela!

...

Aku tarik nafas perlahaaan, buang
tarik nafas perlahaan, buang...
berkali-kali untuk membuat hati baru...
...

Fyuh, klimaksnya selesai... Ahahaha

(Anti klimaks cuy...)

Lalu seketika, muncul ide berlian dari langlang buana pojok pikiranku terdalam.
"Gimana kalo pake Ubuntu? Ubuntu dari Linux, linux itu ringan. Sementara Android studio itu buat bikin Android, yang Android itu based-on linux. Bakalan ringan juga kan? (harusnya! mungkin!)", pikirku.
Tanpa pikir panjang, aku kemas-kemas barang-barang. Laptop, charger dan sebagainya kumasukkan ke ransel. Lalu cap cus pergi ke kampus, buat download Ubuntu.
Asal tahu aja, Internet di kampus itu cepet bingits. Mungkin kalo bayar ke provider di Indonesia, sampe 1.5 jutaan per bulan. Entahlah, tapi untungnya gratis-tis-tis, (eh bayar 25 rb / bulan).
Alhasil, download ISO ubuntu yang cuma 800 - 1GB memakan waktu hanya kurang lebih 30 menit.
Udah itu langsung ku install. Dual boot.
Aku belum berani buat membuang Jendela mentah-mentah sekaligus karena aku masih Jendela Mania. Anak yang ngga bisa hidup tanpa Jendela. Selain itu, Jendela ku itu ber-lisensi cuuy.... Mahal belinya... masak dibuang begitu sajah! Kan sayang!
Jadi kupilih Dual Boot.

Proses installasi memakan waktu berhari-hari karena aku harus nyari tahu gimana install Ubuntu dual boot. Ini proses harus ekstra hati-hati. Meskipun aku udah pernah install Ubuntu sebelumnya, tapi kalau salah langkah bisa hilang semua data. Tahu kan rasanya kehilangan data di komputer, rasanya tuh kayak kehilangan anak semata wayang yang sudah dibesarkan sepuluh tahun, lagi lucu-lucunya kan anak tuh, terus ilang. Kayak apa yah rasanya? Belum pernah kehilangan anak. dan belum pernah punya anak. Ahahahahaha. Kehilangan anak, jangan deh, naudzubillah.
...
Alhamdulillah proses installasi berhasil. Aku langsung deh install Android Studio di Ubuntu.
Dan ternyata Emang BENER! Jalanin Ubuntu di Android Studio ringggaaan bingiiiits. Seringan-ringannya tepung masih ringan Jalanin Ubuntu Studio di Android... #Apa sih?
Alhamdulillah.... Rasanya tuh seneeeng banget...... Hati lega dan penuh kembali setelah dicincang-cincang berminggu-minggu.
Rasanya kayak anak yang hilang sepuluh tahun ditemukan kembali... Seneng banget.
Kayak apa yah rasanya anaknya kembali? Ahaahaa

(Penutupan... yey hampir selesai ceritanya...)

Mulai saat itu aku mulai lebih sering pake Ubuntu daripada lihat di Jendela. Data-data mulai kupindahkan ke Ubuntu, meskipun yang di Jendela masih bisa dibuka di Ubuntu, tapi karena aku lebih sering buka Ubuntu ya buat apa. Aku juga membiasakan diri mengerjakan tugas-tugas di Ubuntu. Menggunakan software ubuntu, software gratis yang luar biasa. Meski sangat suka sama fitur-fitur Words nya Jendela, aku berusaha melupakan kenangan indah bersama Word, aku juga berusaha melupakan kenangan indah bersama Excel di Jendela dan membiasakan pake Calc nya Libre Office. Mereka yang dari Ubuntu tidak sempurna, dan mungkin tidaklah memberikan pengalaman sebaik pake Word dan Excel atau produk di Jendela lain. Tapi mereka cukup untuk membuat dokumen tugas-tugas. Jadi, nggak masalah.

Lalu sampai suatu ketika, setelah aku benar-benar terbiasa pake Ubuntu, aku tetapkan dengan hati bulat...
Meninggalkan semua Jendela.
This is a very big decission!

Karena aku udah terbiasa pake Ubuntu, meninggalkan Jendela yang sudah nongkrong bertahun-tahun di laptopku ternyata tidak semenderita yang kubayangkan.
Aku tetap bisa menjalankan rutinitas tugas seperti biasanya. Tugas kelar melar dan benar.
Dan yang terpenting, Hatiku tak hancur lebur dimakan undur-undur! #ahaha apa sih
Ya, sejak saat itu, intensitas hatiku termakan kesabaran jauh berkurang. Kuantitas hatiku yang termakan kesabaran juga jauuuh berkurang.

"Sejak saat itu, saya merasa hidup saya berubah menjadi jauh lebih sehat dan jauh lebih baik. Saya bahagia sekali".
(Bayangin kayak orang yang di iklan produk olah raga di tv two) Ahahaha

-THE END-
nonono
-TO BE CONTINUED-




Hah! cerita yang panjang dan melelahkan.
Yah, begitulah cerita kenapa aku pindah ke Ubuntu setelah sekian lama ber-Jendela riya.
And I'm happy with it.
Satu hal yang belum aku ungkapkan kenapa aku lebih seneng Ubuntu Gnome ketimbang lainnya, yaitu interface Gnome menurutku lebih cantik dari pada interface Unity dan lainnya.
That's it. Ahahaha.

Bye...
Read More

Tuesday, September 15, 2015

Monday, September 14, 2015

My Favorite Youtubers Ever

Siapa youtuber favorite kamu?
Oke...
Oke aku juga suka itu...
Oke, itu aku juga suka...
oke,...
oke...
oke, siapa dia?
oke, aku belum pernah denger dia...
...
Kebanyakan youtuber favoritku adalah youtuber dari luar negeri, ada juga yang dari dalam negeri, cuma tidak sebanyak yang kusuka dari youtuber luar. Soalnya HAMPIR tidak ada youtuber dalam negeri yang berkualitas. Hampir, aku bilang, HAMPIR..., yang artinya, ada juga youtuber dalam negeri yang kontennya bagus dan videonya berkualitas, atau kontennya bagus tapi videonya tidak berkualitas, atau kontennya tidak bagus cuma videonya berkualitas. Macem-macem.
Langsung saja, berikut youtuber-youtuber favoritku.

#1. The Finebros
The finebros atau The Fine Brothers adalah youtuber favoritku terfavorit. Jika ada youtuber yang kusuka, maka tidak melebihi kesukaanku pada youtuber yang satu ini. Kenapa? Karena mereka memiliki konten yang unik, berbeda dari yang lain. Salah satu tayangan yang paling kusukai dari channel ini adalah tayangan yang namanya React. Ada Kids React, ada Teens React, ada Adults React, Youtubers React, serta ada Elders React. Acara React ini tidak ada di channel Youtube lain (Kecuali di channel React yang merupakan juga channel punyanya Finebros).
React menampilkan reaksi sekelompok anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua terhadap apapun. Bisa reaksi terhadap teknologi baru atau teknologi lama, reaksi terhadap video-video popular di Youtube, reaksi terhadap musik video popular dan aneh, dan reaksi-reaksi lainnya. React yang paling kusuka adalah Kids Reacts, soalnya reaksi mereka (anak-anak) lucu-lucu dan menggemaskan.
Acara React tersebut sangat popular. Sangat popular bahkan beberapa waktu lalu Rafi dan Benny (Pemilik channel youtube The Finebros) melakukan kolaborasi dengan youtuber di Jepang untuk ikut mengisi acara Youtubers React.
Kini Finebros memiliki channel lain namanya React Channel yang khusus menampung acara React dan React Bonus. Di React Channel ini ada juga yang namanya Kids vs. Foods yang menampilkan reaksi anak-anak terhadap makanan-makanan aneh-aneh.
Saking tenarnya The Finebros membuat stasiun televisi di sana (US) sempat beberapa kali menjadikan Benny dan Rafi menjadi pembawa acara di suatu acara mereka. #ngomong apa sih? tapi beneran. Sekarang Benny dan Rafi menjadi pembawa acara di televisi.

#2. Devin Super Tramp
Yang kedua adalah Devin Super Tramp. Berbeda dengan Finebros, devin menyuguhkan video-video berkualitas tinggi tentang expeditions, parkour dengan berbagai tema maupun adventures yang seru-seru. Videonya lebih ke film petualangan seperti buggy jumping, selancar, maupun video tentang suatu tempat.
Yang sangat kusuka dari Channel ini adalah kualitas videonya yang sangat mak nyus dengan style film yang profesional. Yang jelas menonton video dari Devin sangat eye pleasure.

#3. Smarter Everyday
Ada Destin, seorang pria full time job sebagai analis Rocket (Roket yang dibawa ke luar angkasa). Dia ini sangat cerdas. Memiliki rasa ingin tahu (curiousity) yang sangat besar. Jika kamu menonton video darinya, it's impossible if you'll get nothing new. Ya, kita bakal mendapatkan sesuatu yang baru, atau sesuatu yang "waw". Seperti misalnya aku baru tahu kalau ada kupu-kupu yang memakan bangkai binatang, yang sebenarnya tidak benar-benar "memakan" bangkainya, melainkan mereka mengambil garam dari bangkai tersebut.
Atau misalnya, bener ngga sih jika kita flush toilet di belahan bumi utara, aliran air bakal berlawanan dengan jika kita flush toilet di belahan bumi selatan?
Atau yang banyak lagi lainnya. Destin membawa sesuatu yang sebenarnya sederhanya (seperti kenapa kucing bisa jatuh di tanah dengan posisi kaki di bawah) yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita, sesuatu yang sepele, yang jika kita lihat lebih dekat, hal sepele itu sebenarnya adalah hal yang luar biasa menakjubkan.
Think differently. -Destin

#4. Blender Guru
Jika kamu suka dunia modelling 3D, atau animasi, terutama menggunakan Blender 3D, kamu bakal suka channel ini. Isinya seputar tutorial menggunakan software modelling Blender 3D. Ada banyak sekali macam tutorial, mulai dari cara membuat teksture material, cara membuat rambut, cara membuat fog atau kabut, cara membuat laut, dan sebagainya dan sebagainya. Alurnya juga jelas dan gampang diikuti. Yang paling kusuka adalah aksen Australia pada bahasa inggrisnya. Ahahaha

#5. DIY Perks
Dapat dilihat dari namanya, channel ini menyuguhkan video DIY-DIY tentang berbagai macam hal. Mulai dari cara membuat lampu jamur yang indah, sampai merakit PC paling ngga bising. Juga cara memperbaiki hard disk yang rusak agar berfungsi kembali. Ada banyak lagi DIY-DIY yang menarik.
Hanya saja, jangan salahkan dia jika hasil yang kamu bikin tidak seindah bikinannya. ahahaha

Oke that's it. Mereka adalah 5 youtuber favorit ku. Sebenarnya ada banyak lagi yang aku juga suka seperti TechnoBuffallo, AndroidAuthority, CollegeHumor, Veritasium, ViHart, dan lain-lain. Cuma yang paling aku suka adalah yang 5 ini.

Siapa youtuber favorit kamu?



Read More

Friday, September 11, 2015

Thursday, September 10, 2015

A Simple Java TCP Client

As followed my post about simple java TCP server and I promised to post about simple java TCP client, so here it is. If you haven't read my simple java TCP server already, then why don't you give it a go. There you'll find how to compile java code that I will not be covering in this post. So go ahead to this post and get back here as soon as you know how to compile java code. If you already know how to do it, then it's okay to continue to read this post.
import java.io.*;
import java.net.*;
import java.util.Scanner;

class Client{
    private static Client client;
    private static int socketNumber = 1234;
    private static Socket clientSocket;

    public Client(){
        try{
            clientSocket = new Socket("localhost", getSocket());
        }catch(Exception e){
            System.out.println("Error."+e.getMessage());
        }
    }

    private int getSocket(){
        Scanner in = new Scanner(System.in);
        System.out.print("Input socket server: ");
        socketNumber = in.nextInt();
        System.out.println("Socket server "+socketNumber+", Ready to send message");
        return socketNumber;
    }

    public static void main(String argv[]) throws Exception{
        client = new Client();
        String sentence;  
        String modifiedSentence;   
        BufferedReader inFromUser = new BufferedReader( new InputStreamReader(System.in));   
        DataOutputStream outToServer = new DataOutputStream(clientSocket.getOutputStream());   
        BufferedReader inFromServer = new BufferedReader(new InputStreamReader(clientSocket.getInputStream()));   
        sentence = inFromUser.readLine();   
        outToServer.writeBytes(sentence + '\n');   
        modifiedSentence = inFromServer.readLine();   
        System.out.println("FROM SERVER: " + modifiedSentence);   
        clientSocket.close();
    }
} 
Compile and run the code.
To test this out, we need to run the server as well so go ahead open another terminal and run the server. Put the socket port you want your server will be using and press ENTER Then in your client, put the server port that you just typed in and press ENTER. Now you'll see "Ready to send message" message, it indicates that both client and server are now connected.
Just type something from client then you'll see your message will be appeared in the server side.

To test our server from a different computer, we need know our PC ip address. To find out our IP address, simply type in terminal ipconfig for windows or ifconfig for ubuntu and our IP address is shown next to inet label.
After we know our PC's IP,  open terminal from another computer which runs ubuntu and type in telnet <our ip address> <server port> and we're ready to send message to server.

#source: https://systembash.com/a-simple-java-tcp-server-and-tcp-client/
Read More

Godaan yang Melalaikan

Swasta (Mahasiswa Tingkat Akhir/Mahasiswa TA/Mahasiswa Tingkat 4) membutuhkan kegigihan dan usaha keras agar tidak menjadi Swasta terus menerus (Mahasiswa tiada akhir? jangan deh).
Kenapa butuh kegigihan dan usaha keras?
Ya karena swasta harus nyelesain TA, selain itu swasta harus.... uhmmm... nyelesain TA, haha, apa lagi? Dan ini membutuhkan segala daya upaya sekuat tenaga agar bisa selesai TAnya.
Jangan salah. Cobaan yang menerpa begitu beragam bagi orang yang ada dalam fase swasta. Contohnya: "susah, idenya ngga muncul-muncul", atau "lagi ngga mood". Pas giliran lagi mood: "lagi sibuk". Terus pas sibuknya udah selesai: "mood nya udah ilang...". #cape deh
Alasan klasik swasta pas awal-awal jadi swasta adalah ngga punya ide. Meskipun sudah diberi tahu dosen tips and trick untuk membangun ide yang gemilang nan cemerlang, tapi masih saja ide itu tak kunjung muncul. #sedihnya
Berbeda denganku. Aku sudah ada ide, ide cemerlang nan gemilang. Bahkan aku sudah mengutarakan ide itu kepada balon(bakal calon) dosen pembimbingku agar memberikan masukkan apakah ide itu reliable dan memenuhi syarat.
"Bagus, bagus itu, sangat memenuhi syarat!" Tegas beliau. Aku pun jadi semangat.
Tapi sesampainya di kamar kosan......
.....
Ku buka sepatuku, ku taruh tas di... di situ, kuambil biola dan penggeseknya, kumainkan Canon in D by Pachabel... #ngeeek ngeek
terus memainkan biola tak peduli kawan kosan di kamar lain tertatih-tatih menutup telinganya, tak acuh ada burung mati kelabakan nggak kuat nahan suara merdu biolaku...
...
Yah, itulah cobaan ku, godaan untuk main biola tiada hentinya, seakan aku ingin memainkannya terus menerus hingga jari-jemari teriris oleh senarnya.
Tapi apa boleh buat. Aku ingin bisa memainkan biola sebagus orang yang bagus memainkan biola (eh?)
Hanya saja waktunya yang kurang tepat.
Yah, aku hanya bisa berdoa dan berusaha untuk mengurangi intensitas bermain biola. Jangan sampai aku jadi swasta lebih lama lagi.

Ya Allah, bantu hambamu mengerjakan TA.
Amiin...
Read More

Tuesday, September 8, 2015

A Simple Java TCP Server

Here is a simple example of TCP Server using java. It gives you idea about how TCP server opens up a port and receives message from TCP client.

To compile this code, simply install Java JDK to your computer. Then save this code with file name Server.java and then open terminal. Change your directory to where you save this file and type in javac Server.java - this will create new file Server.class, don't do anything with .class file unless you'll get an error: "Exception in thread "main" java.lang.NoClassDefFoundError". And then type in terminal java Server .

 import java.io.*;  
 import java.net.*;  
 import java.util.Scanner;  
   
 class Server{  
  private static Server server;  
  static int serverPort = 1234;  
  static ServerSocket welcomeSocket;  
    
  public Server(){  
  try{  
   welcomeSocket = new ServerSocket(setSocket());  
  }catch(Exception e){  
   System.out.println("Error: "+e.getMessage());  
  }  
  }  
    
  private int setSocket(){  
  Scanner in = new Scanner(System.in);  
  System.out.print("Enter socket number:");  
  serverPort = in.nextInt();  
  System.out.println("Socket number "+serverPort+" created.");  
  System.out.println("Listening...");  
  return serverPort;  
  }  
    
  public static void main(String argv[]) throws Exception {  
  server = new Server();  
  String clientSentence;       
  String capitalizedSentence;       
  while(true){  
   Socket connectionSocket = welcomeSocket.accept();         
   BufferedReader inFromClient = new BufferedReader(new InputStreamReader(connectionSocket.getInputStream()));  
   DataOutputStream outToClient = new DataOutputStream(connectionSocket.getOutputStream());  
   clientSentence = inFromClient.readLine();  
   System.out.println("Received: " + clientSentence);         
   capitalizedSentence = clientSentence.toUpperCase() + " from "+serverPort+'\n';         
   outToClient.writeBytes(capitalizedSentence);       
  }   
  }  
 }  


Next post will be a simple Java TCP Client.

#source: https://systembash.com/a-simple-java-tcp-server-and-tcp-client/
Read More

Saturday, September 5, 2015

Back To Blender

I've been working on something wet with Blender 3D since couple days ago, which is..... The Ocean. After a very long time I didn't work with Blender, I feel so bad when I start to work with Blender again as I almost forget most of the functions and that kind of stuffs in Blender. So in order to recall that memory of Blender back, I watched a video about how to make ocean in blender and I followed the steps and I did with my own hand. And the result, I'm pretty happy with it. Here's the sneak peek of my work.


By the way, I'm trying to make animation of an ocean. So that'll take so long to finish this render. It's frame 19 of 250 frames. And each frame takes about half an hour to render. I got to be patient. I know. And it slows down my laptop. (I'm using laptop to do this stuffs. No GPU render, so slow. So sad).

And perhaps, I'll do the tutorial for this. maybe, perhaps. If I want to.

#fighting
Read More